Social Icons

Pages

Sabtu, 15 Maret 2014

Dari Kampung Lokalisasi Menjadi Kampung Usaha

Gagas Jadi Kampung Batik dan Rumah Produksi Makanan Kemasan

Kota Surabaya, Bhirawa
Penutupan lokalisasi setahun silam bukannya membunuh peluang usaha. Kini mereka malah aktif terlibat dalam bisnis baru yang tentunya halal.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan berbagai rencana untuk menggiatkan perekonomian kawasan eks lokalisasi. Salah satunya dengan menggagas agar kawasan tersebut menjadi kampung batik.
Terdapat dua kawasan yang akan dijadikan kampung batik yaitu Tambaksari dan Dupak Bangunsari. Pelatihan batik akan ditujukan kepada mantan PSK dan mucikari. Selain itu, warga yang dulu bergantung pada bisnis prostitusi tersebut juga akan diberikan pelatihan untuk memproduksi batik. Pemkot akan mendatangkan trainer dari perusahaan.
Selama dua hari, para mantan PSK, mucikari dan warga akan dilatih, setelah itu akan dipekerjakan oleh perusahaan. Salah satu dari perusahaan tersebut adalah milik Roesmadi Hadi Suryo.
Menurut Roesmadi, akan ada kategorisasi bagi para mantan PSK, mucikari dan warga yang akan dipekerjakan. Antara lain, untuk yang berminat membatik akan diajari cara melukis motif dan teknik celup.
Untuk yang berminat menjahit akan dilatih menjahit kain yang sudah jadi untuk dijahit menjadi tas, pakaian dan lain-lain. Sementara bagi yang berniat untuk berjualan, akan diberikan pelatihan penjualan batik.
Sejauh ada kemauan pasti ada jalan. Pepatah itulah yang paling tepat menggambarkan perjuangan para mantan pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari di Dupak Bangunsari.
Selain ketrampilan membatik, Pemkot Surabaya juga memberikan pelatihan membuat makanan kemasan. Sebuah rumah di Jl. Dupak Bangunsari 4/7 terlihat sangat sibuk. Puluhan ibu-ibu berseliweran keluar-masuk bangunan berpagar kuning itu.
Ternyata, di dalamnya merupakan tempat produksi hasil olahan pangan kemasan. Pengelolaan usaha level home industri tersebut dibawah bendera Kube (kelompok usaha bersama) Dupak Makmur Bersama.
Jika menilik sejarah lokasi Dupak Bangunsari beberapa tahun lalu, siapa sangka bakal ada usaha produksi makanan kemasan. Maklum saja, area tersebut memang dikenal sebagai salah satu kawasan prostitusi di Surabaya.
Pastinya, bisnis yang mendominasi adalah wisma dan karaoke. Tapi, keadaan berbalik 180 derajat. Perlahan tapi pasti, setelah penutupan warga mulai mencari peluang usaha baru. Satu per satu tempat usaha bermunculan.
Kube Dupak Makmur Bersama memang bukan satu-satunya home industri yang berdiri pasca penutupan lokalisasi. Kembang Melati yang berjarak beberapa gang, lebih dulu diresmikan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pada 28 Juni 2013.
Bedanya, produk unggulan Kembang Melati adalah karpet, pernak-pernik dan hiasan jilbab. Sedangkan Dupak Makmur Bersama fokus pada makanan kemasan.
Ketua Kube Dupak Makmur Bersama, Nur Aini menjelaskan pihaknya mengembangkan dua macam bahan dasar, yakni hasil olahan ikan dan wuluh. Masing-masing bisa mencapai 12 jenis produk. Seperti abon tuna, abon lele, wader remes, pangsit lele, dan lain sebagainya. Sementara untuk wuluh ada cake wuluh yang jadi ikon.
Dari segi pengelolaan, Dupak Makmur Bersama bisa dibilang tidak main-main. Hal ini bisa dilihat dari adanya struktur organisasi yang jelas. Mulai ketua hingga pembagian divisi yang berjumlah lima, diantaranya divisi udang dan wader, otak-otak bandeng, bandeng presto, abon lele, serta rumah produksi.
Total pekerja tetap yang ada di sana berjumlah 26 orang. Beberapa diantaranya mantan PSK dan mucikari. Mereka membaur dengan ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah produksi.
Pengelolaan yang baik serta kegigihan dalam menjalankan usaha menjadi kunci sukses usaha Dupak Makmur Bersama. Alhasil, ungkap Nur Aini, omzet bersih per bulan yang sekarang bisa dikumpulkan rata-rata berkisar Rp10 juta.
“Itu belum termasuk kalau kami mengikuti pameran biasanya bisa meraup Rp5 juta per event,” ujarnya
 dipostkan oleh: KIM Krembangan
sumber berita : Birawa

UKM Dupak Makmur Bersama

Sukses Berkat Makanan Berbahan Labu




Berasal dari kampung yang identik dengan lokalisasi tak membuat Nur Aini dkk mengurung diri. Mereka berinovasi membuat aneka kue unik nan lezat berbahan labu kuning. Kini, mereka bertekad merubah image Dupak Bangunsari, dari kampung lokalisasi menjadi kampung kreasi.  
           
Fikri Angga Reksa
Wartawan Radar Surabaya
Nur Aini (40) geregatan setiap kali mendengar label Dupak Bangunsari sebagai daerah lokalisasi. Ibu dua anak ini miris sekaligus sedih dengan image buruk yang melekat di kampungnya. Karena itu, pada tahun 2010 dia mulai mengumpulkan rekan-rekannya untuk merintis usaha kecil-kecilan bernama UKM Dupak Makmur Bersama. “Awal-awal kami cuma bikin kue basah biasa. Kalau dapat laba tidak kami ambil dulu tapi kami puter lagi,” terangnya di kediaman Jl Dupak Bangunsari IV/15,kemarin  (9/1).
Sekitar tahun 2011, barulah Nur Aini yang memiliki anggota berjumlah 10 orang memberanikan diri berinovasi. Mereka bereksperimen membuat kue brownies berbahan labu kuning. Dia memilih bahan labu kuning karena selain enak, juga belum ada pengusaha yang membuat kreasi kue berbahan labu. Tapi, sebelum menemukan resep yang pas seperti sekarang, Nur Aini mengaku harus menguji resepnya berkali-kali. “Saya mencobanya sampai banyak sekali. Hasilnya tetap banyak yang bantat. Tapi dari kegagalan itulah, kami mulai belajar menemukan resep yang pas,” ujanya.
Saat ini sudah banyak kreasi kue berbahan labu yang telah mereka pasarkan. Selain brownies waluh, mereka menyediakan cupcake waluh, muffin waluh, fruit pie, kroket mbote, brownies pisang dan masih banyak olahan dari bahan nonberas. Paling baru, mereka membuat kreasi kudapan khas Kota Pahlawan yaitu Lapis Surabaya waluh. Walaupun termasuk menu baru, lapis Surabaya ala UKM Dupak Bangunsari itu merebut juara ke II di ajang Awarding Lapis Surabaya dalam pergelaran Pahlawan Ekonomi 2013. “Kami sangat bersyukur bisa menang. Kemenangan itu semakin menujukkan bahwa Dupak Bangunsari bisa bangkit,” tukasnya.
Memang banyak perubahan yang dialami warga lewat UKM Dupak Bangunsari. Para anggota yang sebelumnya tidak punya penghasilan, kini bisa menjadi sandaran hidup rumah tangga. Bahkan, ada yang bisa memperbaiki rumah dan memperoleh penghidupan lebih layak.
Bukan hanya itu saja, UKM Dupak Bangunsari juga berkontribusi membina mantan Pekerja Seks Komersial (PSK). Dengan tangan terbuka, mereka menerima mantan PSK yang selama ini termarginalkan. Berbagai pelatihan untuk mantan PSK mereka giatkan bersama komunitas keagamaan sekitar. “2 diantara 10 anggota kami adalah mantan PSK. Kami selalu mensupport mereka karena memang niatnya baik,” imbuhnya. 
Selanjutnya, Nur Aini berangan bisa membangun outlet untuk UKM-nya yang akan diberi nama Rumah Waluh. Selama ini, dia mengaku kesulitan untuk mendisplay dan mempromosikan produknya. Sebagai ketua, dia aktif berkeliling door to door memperkenalkan produknya. Dia ingin bantuan gerai gratis yang diberikan Wali Kota di mal seluruh Surabaya sampai ke Bangunsari. “Kami memang jarang tersentuh bantuan dari Pemkot. Semoga saja tahun ini kami dapat outlet gratis itu,” harapnya. (*)

Kampung Tas Gadukan Surabaya

KAMPUNG TAS di GADUKAN SURABAYA

tas ut
WARTA METROPOLIS SURABAYA : Di-era modern ini, barang yang memiliki kualitas bagus dengan harga murah adalah buruan utama khususnya bagi kalangan masyarakat terutama di Surabaya. Seperti halnya tas, pasti setiap orang membutuhkannya. Tak perlu kebingungan, karena di Surabaya terdapat sebuah kampung yang diberi nama Kampung Tas. IMG_2314Kampung yang merupakan salah satu kampung unggulan UKM ( Usaha Kecil Menengah ) Surabaya tersebut terletak di kawasan Jl. Gadukan Baru, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Menurut salah satu pengrajin di kampung tersebut, Yugi Sugianto “Usaha pembuatan tas sudah dimulai sejak tahun 1975-an yang awalnya pengrajin tersebut bekerja pada pengusaha, namun setelah itu orangtuanya berinisiatif membuka usaha sendiri yang bertahan hingga sekarang kemudian di teruskannya “ jelasnya. Pada awalnya hanya terdapat sekitar 6-10 orang pengrajin tas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman serta permintaan dari pasar, kini jumlah pengrajin sudah mencapai hingga sekitar 60 lebih pengrajin. Kampung unggulan tersebut memproduksi berbagai jenis tas seperti halnya tas wanita (fashion), tas sekolah, tas laptop dan tas seminar dengan variasi harga mulai dari 25.000,- hingga 50.000,- dengan kapasitas produksi 11.400 lusin / bulan (pada akhir tahun 2011).  IMG_2318 
Hasil produksi tas kampung tersebut bukan hanya dipasarkan di Surabaya seperti di PGS dan ITC , namun adapula yang dipasarkan hingga ke luar pulau seperti ke kota Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin dan Makassar. Dalam Kegiatan pemasaran produk tas yang . Bahan yang digunakan untuk membuat tas berasal dari sintetis imitasi kulit yang didatangkan langsung dari Jakarta. Menurut salah satu pengelola “ kita juga pernah mendapatkan bantuan dari Desperdagin dalam bentuk mesin jahit, jadi itu juga sangat membatu kami dalam hal produksi “ jelasnya. “ kampung kami juga pernah mendapatkan penghargaan Adi Cipta Karya Nugraha “ tambahnya. Dalam upaya mengenalkan produk ke masyarakat, kelompok UKM dari kampung tersebut melakukan berbagai cara seperti melalui personal selling dan partisipasi melalui beberapa pameran serta instansi-instansi seperti Disperdagin Surabaya, beberapa outlet di Hi- Tech Mall, Dharma Wanita Pengadilan Tinggi di Surabaya serta Surabaya Great Expo.   Namun, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh para pengrajin di kawasan tersebut seperti masalah dalam hal pemasaran karena kurangnya promosi sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahui, serta persaingan harga dan juga persaingan pedagang yang kurang sehat. “ diharapkan agar pemerintah memberikan perhatian lebih dalam hal pemasaran produk agar masyarakat lebih mengenal produk kami “  jelasnya./pul-bud

Jumat, 14 Maret 2014

Sosialisasi Pencegahan Penyakit DBD

 
    Krembangan -Di musim penghujan tahun ini untuk mengurangi  meningkatnya wabah Demam Berdarah (DBD) Pemerintah Kota melalui Instansi terkait ,semakin gencar mengadakan sosialisasi untuk mencegah terjadinya wabah DBD.Dalam hal ini Instansi Kec.Krembangan  pada bulan Februari di ruang pertemuan lantai 2 kantor Kec.Krembangan  mengadakan sosialisasi pencegahan wabah demam berdarah yang dihadiri oleh kader-kader PKK yang mewakili tiap-tiap kelurahan masing-masing.
   dalam sosialisi ini dijelaskan mengenai gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSM) serta Gerakan 3M yaitu: menguras kamar mandi, menutup wadah/penampungan air dan mengubur barang bekas seperti kaleng yang bisa menampung air.
Menurut Ibu Emmy, sosialisasi ini diadakan untuk memberikan pengertian kepada kader-kader PKK supaya nantinya bisa di sampaikan  kepada masyarakat/warganya tentang bahaya dari wabah demam berdarah, karena penyakit ini tidak memandang usia.,siapa saja bisa terkena penyakit ini  ujar Ibu Emmy  yang menjabat sebagai Kasie Kesra di Kecamatan Krembangan.


Kamis, 13 Maret 2014

Penjurian Lomba Tenaga Medis Puskesmas Tk. Surabaya



  Dupak- Suasana Puskesmas Dupak Kec. Krembangan pagi tadi, Jum'at  14 Maret 2014 serasa lebih ramai dari pada hari biasanya.Puluhan tenaga kesehatan/Dokter dari berbagai Puskesmas di Kota Surabaya berkumpul di ruang pertemuan lantai 2 .mereka hadir dalam acara PENJURIAN LOMBA TENAGA KESEHATAN/DOKTER PUSKESMAS TELADAN TINGKAT KOTA SURABAYA.
  Maksud Pemilihan tenaga kesehatan teladan di Puskesmas baik tingkat Kecamatan, tingkat kotamadya maupun tigkat provinsi dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan pengakuan atas keteladanan dalam pembangunan kesehatan di Puskesmas sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan minat tenaga kesehatan untuk bekerja dan berkompetisi secara sehat di Puskesmas. 






                                                                                                      posting by dicky.kim krembangan
 

Sample text

Sample Text

Berita Kim

Sample Text

 
Blogger Templates