Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Info UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info UKM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2014

Kampung Batik


KIM KREMBANGAN: Kegiatan membatik ibu pkk dikampung batik RW 4 kelurahan Dupak kecamatan krembangan





Hasil karya ibu ibu membatik dikampung batik kelurahan Dupak Kecamatan Krembangan

Sabtu, 15 Maret 2014

UKM Dupak Makmur Bersama

Sukses Berkat Makanan Berbahan Labu




Berasal dari kampung yang identik dengan lokalisasi tak membuat Nur Aini dkk mengurung diri. Mereka berinovasi membuat aneka kue unik nan lezat berbahan labu kuning. Kini, mereka bertekad merubah image Dupak Bangunsari, dari kampung lokalisasi menjadi kampung kreasi.  
           
Fikri Angga Reksa
Wartawan Radar Surabaya
Nur Aini (40) geregatan setiap kali mendengar label Dupak Bangunsari sebagai daerah lokalisasi. Ibu dua anak ini miris sekaligus sedih dengan image buruk yang melekat di kampungnya. Karena itu, pada tahun 2010 dia mulai mengumpulkan rekan-rekannya untuk merintis usaha kecil-kecilan bernama UKM Dupak Makmur Bersama. “Awal-awal kami cuma bikin kue basah biasa. Kalau dapat laba tidak kami ambil dulu tapi kami puter lagi,” terangnya di kediaman Jl Dupak Bangunsari IV/15,kemarin  (9/1).
Sekitar tahun 2011, barulah Nur Aini yang memiliki anggota berjumlah 10 orang memberanikan diri berinovasi. Mereka bereksperimen membuat kue brownies berbahan labu kuning. Dia memilih bahan labu kuning karena selain enak, juga belum ada pengusaha yang membuat kreasi kue berbahan labu. Tapi, sebelum menemukan resep yang pas seperti sekarang, Nur Aini mengaku harus menguji resepnya berkali-kali. “Saya mencobanya sampai banyak sekali. Hasilnya tetap banyak yang bantat. Tapi dari kegagalan itulah, kami mulai belajar menemukan resep yang pas,” ujanya.
Saat ini sudah banyak kreasi kue berbahan labu yang telah mereka pasarkan. Selain brownies waluh, mereka menyediakan cupcake waluh, muffin waluh, fruit pie, kroket mbote, brownies pisang dan masih banyak olahan dari bahan nonberas. Paling baru, mereka membuat kreasi kudapan khas Kota Pahlawan yaitu Lapis Surabaya waluh. Walaupun termasuk menu baru, lapis Surabaya ala UKM Dupak Bangunsari itu merebut juara ke II di ajang Awarding Lapis Surabaya dalam pergelaran Pahlawan Ekonomi 2013. “Kami sangat bersyukur bisa menang. Kemenangan itu semakin menujukkan bahwa Dupak Bangunsari bisa bangkit,” tukasnya.
Memang banyak perubahan yang dialami warga lewat UKM Dupak Bangunsari. Para anggota yang sebelumnya tidak punya penghasilan, kini bisa menjadi sandaran hidup rumah tangga. Bahkan, ada yang bisa memperbaiki rumah dan memperoleh penghidupan lebih layak.
Bukan hanya itu saja, UKM Dupak Bangunsari juga berkontribusi membina mantan Pekerja Seks Komersial (PSK). Dengan tangan terbuka, mereka menerima mantan PSK yang selama ini termarginalkan. Berbagai pelatihan untuk mantan PSK mereka giatkan bersama komunitas keagamaan sekitar. “2 diantara 10 anggota kami adalah mantan PSK. Kami selalu mensupport mereka karena memang niatnya baik,” imbuhnya. 
Selanjutnya, Nur Aini berangan bisa membangun outlet untuk UKM-nya yang akan diberi nama Rumah Waluh. Selama ini, dia mengaku kesulitan untuk mendisplay dan mempromosikan produknya. Sebagai ketua, dia aktif berkeliling door to door memperkenalkan produknya. Dia ingin bantuan gerai gratis yang diberikan Wali Kota di mal seluruh Surabaya sampai ke Bangunsari. “Kami memang jarang tersentuh bantuan dari Pemkot. Semoga saja tahun ini kami dapat outlet gratis itu,” harapnya. (*)

Kampung Tas Gadukan Surabaya

KAMPUNG TAS di GADUKAN SURABAYA

tas ut
WARTA METROPOLIS SURABAYA : Di-era modern ini, barang yang memiliki kualitas bagus dengan harga murah adalah buruan utama khususnya bagi kalangan masyarakat terutama di Surabaya. Seperti halnya tas, pasti setiap orang membutuhkannya. Tak perlu kebingungan, karena di Surabaya terdapat sebuah kampung yang diberi nama Kampung Tas. IMG_2314Kampung yang merupakan salah satu kampung unggulan UKM ( Usaha Kecil Menengah ) Surabaya tersebut terletak di kawasan Jl. Gadukan Baru, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Menurut salah satu pengrajin di kampung tersebut, Yugi Sugianto “Usaha pembuatan tas sudah dimulai sejak tahun 1975-an yang awalnya pengrajin tersebut bekerja pada pengusaha, namun setelah itu orangtuanya berinisiatif membuka usaha sendiri yang bertahan hingga sekarang kemudian di teruskannya “ jelasnya. Pada awalnya hanya terdapat sekitar 6-10 orang pengrajin tas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman serta permintaan dari pasar, kini jumlah pengrajin sudah mencapai hingga sekitar 60 lebih pengrajin. Kampung unggulan tersebut memproduksi berbagai jenis tas seperti halnya tas wanita (fashion), tas sekolah, tas laptop dan tas seminar dengan variasi harga mulai dari 25.000,- hingga 50.000,- dengan kapasitas produksi 11.400 lusin / bulan (pada akhir tahun 2011).  IMG_2318 
Hasil produksi tas kampung tersebut bukan hanya dipasarkan di Surabaya seperti di PGS dan ITC , namun adapula yang dipasarkan hingga ke luar pulau seperti ke kota Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin dan Makassar. Dalam Kegiatan pemasaran produk tas yang . Bahan yang digunakan untuk membuat tas berasal dari sintetis imitasi kulit yang didatangkan langsung dari Jakarta. Menurut salah satu pengelola “ kita juga pernah mendapatkan bantuan dari Desperdagin dalam bentuk mesin jahit, jadi itu juga sangat membatu kami dalam hal produksi “ jelasnya. “ kampung kami juga pernah mendapatkan penghargaan Adi Cipta Karya Nugraha “ tambahnya. Dalam upaya mengenalkan produk ke masyarakat, kelompok UKM dari kampung tersebut melakukan berbagai cara seperti melalui personal selling dan partisipasi melalui beberapa pameran serta instansi-instansi seperti Disperdagin Surabaya, beberapa outlet di Hi- Tech Mall, Dharma Wanita Pengadilan Tinggi di Surabaya serta Surabaya Great Expo.   Namun, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh para pengrajin di kawasan tersebut seperti masalah dalam hal pemasaran karena kurangnya promosi sehingga banyak masyarakat yang belum mengetahui, serta persaingan harga dan juga persaingan pedagang yang kurang sehat. “ diharapkan agar pemerintah memberikan perhatian lebih dalam hal pemasaran produk agar masyarakat lebih mengenal produk kami “  jelasnya./pul-bud
 

Sample text

Sample Text

Berita Kim

Sample Text

 
Blogger Templates